Sabtu, 06 April 2013

free download - Review : Cloud Atlas




Yap, lagi-lagi film yang sebenarnya sudah lama dirilis (Oktober 2012) tapi barusan wara-wiri di XXI (Indonesia!). Cloud Atlas adalah 6 film yang dijadikan satu, dengan menggandeng sederet nama artis besar seperti Tom Hanks, Halle Berry, Hugo Weaving, Jim Broadbent, Jim Sturgess, Susan Sarandon, dan Hugh Grant. Tunggu sebentar! Apa benar? 6 film dijejalkan ke dalam sebuah film berdurasi 172 menit? “Ya, benar sekali,” kata punggung Yukii yang pegal setelah duduk sekian lama di dalam studio. 6 cerita dalam Cloud Atlas ini saling berkaitan baik secara tematik maupun dari segi alur cerita. Penasaran dengan kisah dari Cloud Atlas ini?

Kalau kamu sudah menontonnya, mungkin sebagian dari kamu merasa kebingungan dengan alur cerita yang dipecah-pecah dan transisi babak yang liar dari satu kisah ke kisah lainnya. Babak-babak dalam Cloud Atlas ditata dengan cukup apik, tempo dari masing-masing kisah dibuat sejalan hingga mencapai klimaks, jadi kamu disajikan 6 klimaks yang seru dari 6 kisah dengan goal yang berbeda-beda. Sesuatu yang tidak biasa, bukan?

Selain itu, para aktor dalam film ini memerankan karakter ganda yang berbeda-beda di setiap kisah. Yukii nanti akan menerangkan karakter-karakter yang diperankan oleh masing-masing aktor/aktris dalam film ini.

Kalau diamati baik-baik, sebenarnya kisah dalam Cloud Atlas dapat dijabarkan sebagai berikut.



 

Cloud Atlas bermula dari kisah Adam Ewing (Jim Sturgess)  yang hidup di zaman perbudakan kulit hitam. Adam membawa bersamanya sekotak besar emas yang menjadi incaran oleh Dr. Henry Goose (Tom Hanks). Berpura-pura mengobati Adam yang katanya diserang cacing polinesia, Henry sebenarnya sedang meracuni Adam tanpa sepengetahuannya. Adam menumbuhkan rasa simpati terhadap budak kulit hitam bernama Autua (David Gyasi) dan ketika Autua turut menumpang secara diam-diam di kapal yang akan membawa Adam kembali ke kotanya, Adam membantu Autua untuk membuktikan dirinya terhadap Kapten Kapal dan akhirnya Autua pun diterima sebagai awak kapal. Sementara itu kesehatan Adam semakin memburuk. Autua membantu Adam dengan menghentikan rencana picik Henry dan membuat Adam dapat berkumpul kembali dengan istrinya, Tilda (Doona Bae).



Adam Ewing menuliskan kisah perjalanannya ke dalam sebuah buku “The Pacific Journal of Adam Ewing” yang dibaca dan dikagumi oleh seorang bernama Robert Frobisher (Ben Wishaw). Robert adalah seorang homoseksual yang memiliki bakat menggubah lagu. Ia menjalin hubungan romantis dengan Rufus Sixsmith (James D’Arcy). Untuk mengejar impiannya menjadi penggubah lagu yang diakui, Robert bekerja sebagai asisten komposer ternama Vyvyan Ayrs (Jim Broadbent) yang sayangnya memiliki karakter yang buruk, dan memiliki seorang istri muda bernama Jocasta (Halle Berry). Robert selalu berkirim surat dengan Sixsmith, mengabari kekasihnya tentang perjuangannya menjadi komposer. Setelah menciptakan melodi terindah berjudul Cloud Atlas Sextet, Robert pun berniat untuk berhenti sebagai asisten dan mengejar karirnya sendiri. Namun Vyvyan berniat untuk mencuri karya Robert dan mengancam untuk menghancurkan reputasi Robert bahkan sebelum ia mulai memetik karir. Robert akhirnya terpaksa membunuh Vyvyan dan melarikan diri. Lelah hidup sebagai buron, Robert pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, tanpa sempat mengucapkan salam perpisahan kepada Sixsmith yang sangat dicintainya. Kita bahkan disajikan momen romantis yang menyedihkan di mana Sixsmith mencari Robert namun Robert bersembunyi darinya karena hatinya terlalu sedih untuk berpisah dengan cinta sejatinya.



Bertahun-tahun kemudian, Sixsmith telah menjadi tua dan bergelar sebagai Dr. Sixsmith. Dalam suatu kesempatan ia berkenalan dengan jurnalis bernama Luisa Rey (Halle Berry), putri dari jurnalis ternama Lester Rey (David Gyasi), yang entah bagaimana memiliki tanda lahir berbentuk komet yang persis sama dengan Robert Frobisher. Sixsmith terlibat dalam suatu rencana picik yang diprakarsai oleh pria bernama Lloyd Hooks (Hugh Grant) yang berkaitan dengan minyak dan teknologi nuklir. Hooks memerintahkan Bill Smoke (Hugo Weaving) untuk membunuh Sixsmith. Luisa Rey memutuskan untuk menyelidiki kasus kematian Sixsmith. Penyelidikan Luisa membawanya ke sebuah toko piringan hitam di mana ia mendapatkan piringan musik Cloud Atlas Sextet dan ia merasa bahwa ia sudah pernah mendengar melodi tersebut sebelumnya, sebuah deja-vu yang aneh. Iapun kemudian menyelidiki perusahaan teknologi nuklir Swanekke milik Lloyd dan berkenalan dengan Isaac (Tom Hanks) yang membantunya mengungkap kejahatan Lloyd. Sayangnya Isaac dibunuh oleh Bill Smoke. Luisa juga nyaris terbunuh oleh Bill namun berhasil menyelamatkan diri dan dibantu oleh Javier, teman satu apartemennya. Seorang bawahan Lloyd yang juga ingin menegakkan kebenaran, bernama Joe Napier (Keith David), membantu Luisa mengalahkan Bill Smoke dan menegakkan hukum atas Lloyd Hooks.



Kisah berlanjut pada Timothy Cavendish (Jim Broadbent) yang hidup di tahun 2012, seorang penerbit buku yang ditahan di sebuah rumah jompo bernama Rumah Aurora oleh akal bulus saudaranya, Denholme (Hugh Grant). Timothy adalah pembaca dari buku biografi Luisa Rey berjudul The Half Lives of Luisa Rey. Di Rumah Aurora, Timothy bersama “komplotan kakek-nenek” berkonspirasi untuk melarikan diri dari kurungan Rumah Aurora dan dari Suster Noakes (Hugo Weaving) yang beringas. Tim kemudian menuangkan kisahnya menjadi sebuah film berjudul “The Ghastly Ordeal of Tim Cavendish”, dengan Tom Hanks berperan sebagai aktor yang memainkan Tim.



Monolog Tim dalam film ini, “Aku menolak untuk dianiaya” menjadi inspirasi bagi karakter Sonmi-451 (Doona Bae) bertahun-tahun kemudian di sebuah tempat bernama Neo Seoul, tahun 2144. Sonmi-451 adalah salah satu hasil cloning yang di dimensi ini disebut sebagai Fabricant yang dipekerjakan di sebuah restoran masa depan bernama Papa Song bersama fabricant-fabricant lainnya dibawahi oleh Seer Rhee (Hugh Grant). Sonmi-451 bertemu dengan Hae Joo Chang (Jim Sturgess) yang membebaskannya dari perbudakan dengan membunuh Seer Rhee kemudian mengajak Sonmi-451 bergabung dengan gerakan revolusi di Seoul Lama yang bertujuan untuk menghapuskan sistem perbudakan Fabricant. Dengan pimpinan Jendral Apis (Keith David) Sonmi-451 “mengumandangkan deklamasi kemerdekaannya” tentang kemanusiaan  dan persamaan hak Fabricant dan Purebred. Sayangnya gerakan revolusi ini dikalahkan oleh pasukan kaum Purebred yang dipimpin oleh Mephi (Hugo Weaving). Sonmi ditangkap dan diinterogasi oleh Juru Arsip (James D’Arcy) sebelum akhirnya dihukum mati.



Beratus-ratus musim dingin setelah Deklamasi Sonmi, peradaban manusia mengalami kejatuhan yang diakibatkan oleh ketamakan manusia itu sendiri. Peradaban kembali ke zaman primitif, dan Sonmi diabadikan sebagai Dewi bagi para manusia yang tersisa yang menghuni sebuah dunia bernama Valley. Adalah seorang penduduk Valley bernama Zachry (Tom Hanks) yang selalu mendengar bisikan iblis dalam hatinya, yang disebutnya Georgie Tua (Hugo Weaving). Penduduk Dunia Prescient, sebuah dunia yang jauh lebih maju dibandingkan Valley, bernama Meronym  (Halle Berry) sering datang berkunjung ke Valley, dan kali ini ia meminta tolong kepada Zachry untuk mengantarnya ke Mouna Sol, sebuah gunung di kawasan yang dikuasai oleh suku Kona, suku kanibal yang suka menyerang dan memangsa penduduk Valley. Meronym perlu mengunjungi Mouna Sol, di mana ia percaya akan menemukan solusi bagi masalah kepunahan yang dihadapi oleh penduduk Prescient. Di sana, Meronym mengirimkan sinyal SOS dengan harapan penduduk dunia lain akan mendengar dan bersedia untuk membantu. Namun setelah menolong Meronym dan kembali ke Valley, Zachry menemukan desanya telah diserang oleh suku Kona, dan hanya Catkin, keponakannya, yang tersisa. Zahcry pun menuntut balas dengan membunuh pemimpin suku Kona (Hugh Grant). Selanjutnya, Zachry dan Catkin ikut bersama Meronym dan bangsa Prescient yang mencari dunia baru untuk ditinggali.

Alur cerita dalam film Cloud Atlas tentu saja tidak disampaikan se-sederhana seperti di atas, tapi dalam bentuk yang lebih kompleks. Meski begitu kalau kamu tidak menyerah di tengah jalan dengan berpikir “Ah, film yang membingungkan! Groar!” maka kamu pasti akan bisa menemukan benang merah dari masing-masing kisah dan mulai memahami arah dari penceritaan Cloud Atlas sambil mengangguk-angguk.

Keunggulan dari Cloud Atlas jelas terletak pada akting luar biasa dari para aktor dan aktrisnya. Yukii terutama kagum dengan akting Hugo Weaving di setiap kisah yang berbeda-beda, beliau membawakan perannya dengan brilian terutama saat memerankan Georgie Tua yang menyeramkan, atau saat memerankan Suster Noakes yang ditakuti oleh Timothy Cavendish. (Dalam kisah Timothy Cavendish, banyak sekali momen-momen lucu yang bisa membuat kamu tertawa terpingkal-pingkal!). Kisah cinta antara Frobisher dan Sixsmith juga menciptakan momen haru tersendiri. Aksi heroik Hae Joo dan kisah romansanya dengan Sonmi-451 juga dijamin menarik dan dibumbui dengan aksi tembak-menembak dan perlawanan revolusi yang seru! Tom Hanks dan Halle Berry, seperti biasa membawakan akting yang patut diacungi jempol! Pokoknya bisa dikatakan dari segi akting dan kasting, Cloud Atlas ini masuk kategori sukses! Selain itu dari segi visual, film ini juga tidak mengecewakan. Tata kota Neo Seoul disajikan dengan apik, begitu juga dengan aksi tembak-menembaknya.

Dari segi cerita, sebenarnya kalau keenam kisah tersebut dipisahkan dan diceritakan secara biasa, tidak ada yang terlalu spesial. Yang membuatnya terkesan “wah” sesungguhnya adalah cara penyajiannya, dengan membagi-bagi kisah ke dalam beberapa sesi, yang tentunya akan memaksa penonton untuk berpikir. Sekali lagi, akting dari para pemain juga berperan besar dalam suksesnya penyajian kisah dalam Cloud Atlas. Klimaks yang terjadi bersamaan membuat babak-babak akhir dari Cloud Atlas sangat menegangkan. Meski begitu, Yukii kurang begitu tertarik dengan beberapa monolog yang kadang disampaikan, misalnya deklamasi kemerdekaan Sonmi. Intinya sulit dicerna dan menurut Yukii sama sekali tidak ada efek “wow”-nya.

Kesimpulannya setelah menonton Cloud Atlas, sebuah film yang lain dari biasanya, menghibur dengan kisah-kisah individual yang ternyata memiliki benang merah dan wajah-wajah familiar dari artis-artis ternama yang berseliweran dari satu dimensi ke dimensi lainnya. Bagi yang tidak terbiasa berpikir keras saat menonton film, mungkin tidak akan menyukai Cloud Atlas. Bagi yang suka cerita yang unik yang disampaikan dengan cerdas, lengkap dengan berbagai tema: politik, apokaliptik, petualangan, drama, sci-fi, romansa, komedi, aksi –semuanya menjadi satu, akan menemukan Cloud Atlas sebagai film yang memuaskan dan akan menjadi bahan pembicaraan bahkan setelah meninggalkan bangku XXI.

source http://sweetsourjelly.blogspot.com/2013/04/136858987816473.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar